CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Monday, March 05, 2012

HEMAT BUKAN BERARTI MISKIN



Semangat 45 terus berkobar meski putih dari sang MERAH-PUTIH telah memudar. Saya akan memulai tulisan ini sebagai kesepakatan hati yang terdalam untuk menyenggol sedikit hati nurani mahasiswa seantero Nusantara. Terlihat  seperti mengundang ‘perkara’ memang. Tapi akan ku coba menelissik dari sisi saya sebagai ‘pecundang’ yang mengharap sedetik’ lirikan untuk ‘yang terhormat’ yang ‘mengkerutkan keningnya’ ketika memegang mouse sambil mengawasi LCD pada posisi yang benar. Ini cerita ku, saya, bukan seorang genius dan bukan seorang idiot yang perlu dikasihani dengan uluran tangan dengan hati sang ‘munafik’. Baiklah, ini sebuah asumsi yang memuakkan sebagai pembuka, tapi saya hanya mencoba ‘blak-blak-an’ agar terkesan ‘apa-adanya’ dan sedikit ‘ada-apanya’. Teman-teman yang saya muliakan, saya memohon izin untuk berbicara atas nama ‘keinginan yang luar biasa’.
Saya hanyalah mahasiswa semester tengah yang malang-melintang mencari arah yang ‘tak pasti’ untuk menemukan sebuah ‘kejelasan’ dari arti yang ‘hampa’. Ayah saya sudah tiada sejak saya dinyatakan ‘lulus’ SMA. Ia menghantarkan saya dengan setengah dari ‘akhir kesuksesan’ saya untuk melanjutkan kejenjang berikutnya. Ibu saya hanya ‘single parent’ yang berusaha ‘kuat’ menghadapi dunia yang tergolong ‘kejam’.  Ingin rasanya saya berteriak. Namun 70% tempat lapang dikota besar menjadi ‘markas pemuda kreatif’ membuat saya ‘balik kanan’ bergegas pulang keperistirahatan. Kos-kosan saya terbilang ‘cukup’ untuk menampung ‘badan’ saya yang kian ‘membludak’ dan harga nya pun menjadi ‘masalah’ tersendiri akhir-akhir ini. Belum lagi ‘hasrat’ yng tak terbenduung dari ‘gadis’ seusisa saya ketika memasuki pintu ‘mall’ . Lagi-lagi saya teringat akan ‘pengaduan’ ibu saya membuat saya menelan ludah. Tak urung menjadi ‘sosok’ yang ‘enggan diremehkan’, saya berusaha tetap ceria didepan teman-teman saya jikalau kantong saya ‘masih dalam keadaan yang sama’. Namun itu hanya berlaku untuk beberapa detik saja. Saya ingin tertawa setiap saya ingat cerita-cerita dimana saya ikut gabung untuk hang-out di ‘mall’, dengan antusias nya saya berjalan mengitari lorong-lorong toko nersama teman-teman saya. Niat hanya untuk me-refresh mata eh malah ada yang mampir membeli ‘notebook’ dengan merek ternama. Haduh. Cobaan apalagi ini,  jangankan beli baru, tak sanggup rasanya menggeser posisi Godzila, sebutan laptop saya yang setiap kali dibawa kampus mengharuskan saya menggendong ransel seperti ‘anak TK’. Ada lagi ketika teman-teman terdekat saya mengundang untuk sekedar ‘kumpul’. Makan di resto mungkin hal lumrah. Dan saya katakan, lebih baik saya minum ‘es teh manis’ saja jika itu menekan saya untuk ‘puasa makan’ esok hari. Beruntung saya punya teman-teman dekat yang ‘sederhana’ meski saya tahu betul ‘jatah’ mereka adalah lipatan tiga dari bulanan saya. Profesi orang tua mereka terbilang ‘cukup’ dikalangan kota. Tapi mereka ‘tetap’ menjadi ‘cantik’ dengan ‘kasaih-sayang-tulus’ mereka tanpa embel-embel sebagai buntutnya. Oh iya, ada lagi ragam teman saya lainnya. Sikapnya terbilang ‘unik’ untuk saya ceritakan. Tak seperti biasanya, ia ‘enggan’ mengajak saya menikmati ‘angin dunia’ atau hanya sekedar bertatap muka. Yang saya dengar dari teman saya yang lain alasannya tak lain tak bukan karena ‘berkurangnya’ faktor X sebagai financial yang menyantol dikehidupan saya. Semua sudah jelas bahwa ‘kantong’ itu bukan milik pribadi, melainkan dari hasil kerja keras orang tua yang rela berjuang demi secercah senyuman seorang anak. Jangan bangga terlalu berlebihan. Bukan saya benci dengan hal ini. Namun lebih kepada iri hati karena saya tak mampu ‘menyamai’ kepunyaan ‘dompet’ tersebut. Baiklah. Terima kasih sudah mengingatkan saya akan hal terpenting itu. Itu akan membuat saya mundur perlahan untuk tidak berbuat macam-macam. Dan saya hanya lebih tertarik dengan kehidupan selanjutnya.
Nafas saya terasa berkurang beberapa mili. Mengingat kesasakan yang bertubi-tubi, akhir-akhir ini memaksa saya mengelus dada dan mengendapkan telinga saya. Bertemakan study-tour, membuat angan saya membumbung tinggi untuk memasuki khayalan tingkat tinggi. Luar negeri, kata itu seolah sangat ‘wah’. Kata siapa saya tidak mau menjadi bagian dari touring yang saya sendiri sangat mengidamkan itu. Jutaan rupiah bukan perkara mudah. Terutama bagi saya pribadi. Dan saya sangat tahu diri akan hal ini. Hei yo! Sampai sudah pada inti dari celoteh saya kali ini. Jujur, saya ingin menyabotasi ‘segelintir’ sesuai dengan ‘keadaan’ saya saat ini juga.
Hemat. Ya, mungkin anda akan menaikan alis sebelah sesaat. EGP kali ya. Well, sebenarnya saya mengajak teman-teman sekalian untuk bertindak ‘meleset’ dari ‘biasanya’, bukan maksud menyindir atau menyingkirkan ego ‘belanja’. Mengambil keuntungan? Jelas ini tujuan saya agar tidak menjadi ‘satu-satunya’ yang bertindak ‘nyetrik’ seperti itu. Anda pun tak rugi. Dan mungkin kelak anda akan berterima kasih dalam hati ketika ‘keberhasilan’ itu tercapai. Bukan berarti saya menganjurkan anda makan nasi kucing di tengah terik mentari.atau bisa ajadi anda beranggapan saya memberlakukan mengurangi ‘fast-food’ yang bertengger di pusara mall. Hei! Itu malah bikin saya masuk koran dengan ayat “merugikan’pihat produsen.  Setidak nya itu berakhir untuk meminimalisir pengeluaran ‘lembaran berharga’ anda, bukan? Bukan sok menasehati, toh ini saya sindir untuk diri saya sendiri, untung jika menyenggol hati anda semua. Yuk, mari kita sama-sama memulai sesuatu yang tak baru ini, mungkin kita bisa mengambil manfaatnya. Amin. 

0 komentar:

Post a Comment